Pages

Friday, January 4, 2013

Peran Strategi Pembelajaran dan Aktivitas Belajar Otentik




E learning memiliki manfaat yang cukup besar terutama ketika dikaitkan dengan jarak dan keterbatasan waktu dalam belajar, belajar dapat dilakukan melalui web. PBM dapat memanfaatkan fasilitas e learning secara kolaboratif dalam proses pemecahan masalah.
Dengan memanfaatkan masalah sebagai pemicu untuk belajar dan interaktif, potensi teknologi mungkin dapat digunakan secara penuh, bamun pada sisi tertentu e learning tetap memiliki keterbatasan. Beberapa landasan prinsip penggunaan PBM dengan  e learning adalah : (1) menggunakan kekuatan masalah yangriil untuk membangkitkan motivasi, (2) mengondisikan lingkungan kaitannya dengan informasi global, (3) mendorong proses pemanfaatan dan pengembangan belajar e learning, (4) menekankan pada pemecahan masalah dan pembuatan keputusan daripada bahan belajar, (5) menyediakan system dalam kolaborasi, (6) optimis dalam menggunakan struktur yang fleksibel, (7) mengembangkan evaluasi dan kritik terhadap sumber informasi.

Belajar Otentik
Menurut J. Herrington, dkk. Dalam buku Designing authentic activities for Web-based courses (Marilyn M. Lombardi, 2007), secara signifikan peneliti di bidang pendidikan menyimpulkan bahwa “nilai pembelajaran otentik tidak dibatasi untuk belajar dalam kehidupan dalam lokasi dan praktek yang nyata, akan tetapi pembelajaran otentik dapat diwujudkan melalui desain yang cermat dalam pembelajaran berbasis lingkungan web”. Saat ini, lingkungan berbasis web memberikan akses kepada peserta didik untuk mendapatkan berbagai sumber profesional. Pendidik dapat menggunakan Web-based alat komunikasi untuk membantu siswa berkolaborasi dengan satu sama lain, berbagi dan membangun pengetahuan.
 
Terdapat beberapa faktor yang mendukung terciptanya pembelajaran otentik agar menjadi pembelajaran yang efektif, yaitu :
a) Learners look for connections. Mengasimilasikan pengetahuan baru kedalam struktur skemata pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik.
b) Long-lived attachments come with practice. Konsep perlu “ditayangkan” berulang kali secara teratur, dikaitkan dengan informasi baru agar konsep yang terbentuk tidak hilang.
c) New contexts need to be explored. Konsep yang dipelajari selalu menjadi bagian yang lebih besar dari “kegiatan pembelajaran” yang langsung terkait dalam pikiran peserta didik dengan setting, kegiatan, dan lingkungan sosial.


Penilaian Otentik
Penilaian otentik mengajak peserta didik untuk menggunakan pengetahuan akademik kedalam konteks dunia nyata untuk tujuan yang bermakna. Ketika peserta didik melakukan tugas dalam penilaian otentik, mereka menghadapi tantangan-tantangan yang lazim menyertai setiap usaha untuk mencapai hasil yang berarti dalam konteks pekerjaan atau masyarakat. Penilaian otentik meningkatkan pembelajaran dalam banyak hal. Pengujian standar bersifat eksklusif dan sempit, sementara penilaian otentik yang bersifat inklusif memberikan keuntungan kepada siswa dengan memungkinkan (Newmann & Wehlage dalam Contextual Teaching & Learning: 289) :
a)    Mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka.
b) Mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, menangani teknologi, dan berpikir secara sistematis.
c)  Menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri, dunia mereka, dan masyarakat luas.
d) Mempertajam keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, mengidentifikasi masalah, menciptakan solusi, dan mengikuti hubungan sebab akibat.
e) Menerima tanggung jawab dan membuat pilihan.
f) Berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain dalam mengerjakan tugas.
g) Belajar mengevaluasi tingkat prestasi sendiri.


0 komentar:

Post a Comment